Tuesday, October 23, 2012

Mengenal Sistem Pemilihan Proporsional




Dalam sistem ini proporsi yang dimenangkan oleh sebuah partai politik dalam sebuah wilayah pemilihan akan berbanding seimbang dengan proporsi suara yang diperolah partai tersebut dalam pemilihannya. Dalam sistem ini dikenal istilah district magnitude, sebab setiap distrik berwakil majemuk (>1). Variasi dari system ini adalah daftar proporsional representasion, dan single transferable vote.
a.       Propotional representation (PR)
Menurut Farrel, sistem proporsional selalu diasosiasikan dengan nama 4 (empat) orang, yaitu Thomas Hare (inggris), Victor d’Hondt (belgia) , Eduard Hagenbach-Bischoff (swiss), dan A. Saint-Lague (Prancis). Meskipun demikian, menurut Farrel asosiasi itu tidak selamanya tepat sebab kemunculan sistem proporsional adalah berhimpitan dengan perkembangan demokrasi perwakilan, dan terutama dengan perluasan universalitas hak pilih dan perkembangan partai massa.
Ciri dari tipe ini adalah : pertama, setiap distrik berwakil majemuk. Kedua, setiap partai menyajikan daftar kandidat dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan dengan kursi yang dialokasikan untuk satu daerah pemilihan. Ketiga, pemilih memilih salah satu kandidat. Keempat, partai memperoleh kursi sebanding dengan suara yang diperoleh. Terakhir, kandidat yang dapat mewakili adalah yang berhasil melampaui ambang batas suara (threshold).
Pada sistem proporsional ada sejumlah mekanisme yang digunakan  untuk menentukan perolehan kursi dari partai politik. Secara garis besar teknik penghitungan suara itu dipilah menjadi dua, yaitu teknik kuota dan divisor. Teknik kuota atau dikenal juga dengan suara sisa terbesar (the largest remainder) digunakan di Ausrtria, Belgia, dan Denmark untuk majelis tinggi, Yunani, Islandia, dan Italia untuk majelis rendah. Teknik kuota mengenal beberapa varian, dan yang sangat terkenal adalah varian Here dan Droop. Ciri umum dari teknik kuota adalah adanya bilangan pembagi pemilih yang tidak tetap, tergantung pada jumlah pemilih.
Pada varian Here, bilangan pembagi pemilih ditentukan dengan cara membagi total jumlah sura yang sah dengan jumlah kursi yang disediakan pada setiap daerah pemilihan, atau HQ= vis dimana HQ adalah kuota Hare, v adalah jumlah total suara yang sah, dan s adalah jumlah kursi yang disediakan untuk setiap daerah. Perolehan kursi masing-masing partai ditentukan oleh pembagian antara perolehan suara partai dengan bilangan pembagi pemilih tersebut.
Penerapan terhadap varian Here tersebut dapat dilihat seperti dalam tabel. Terdapat 100.000 suara sah yang berasal dari 4 kontestan yaitu A, B, C, dan D untuk memperebutkan 6 kursi di sebuah daerah pemilihan. Dengan demikian kuota Hare didapat 100.000 (suara)/6 kursi = 16.667. A, B, C, dan D masing-masing memperoleh suara 42 ribu suara, 31 ribu suara, 15 ribu suara, dan 12 ribu suara. Dengan menggunakan kuota Hare mendapat 2,2,1, dan 1 kursi.


Tabel 1.1
Alokasi Kursi Versi Kuota Hare
Partai
Suara
Kuota Hare
Kursi dari Kuota Penuh
Kursi Sisa
Total Kursi
A
42.000
2,52
2
0
2
B
31.000
1,86
1
1
2
C
15.000
0,90
0
1
1
D
12.000
0,72
0
1
1
Total
100.000
6,00
3
3
6
Sumber : Andrew Reynolds dan Arend Lijphart
Sementara pada Varian Droop, bilangan pembagi pemilih diperoleh dengan cara membagi jumlah suara yang sah dengan jumlah kursi yang diperebutkan di setiap daerah pemilihan atau DQ= v/(s+1) dimana DQ adalah Kuota Droop, v adalah jumlah total suara yang sah, dan s adalah jumlah kursi yang disediakan untuk setiap daerah.
Pada tabel 1.2 adalah contoh penggunaan varian Droop dalam menghitung perolehan kursi setiap partai dengan total suara 100.000 dan 6 kursi untuk satu daerah pemilihan. Dengan menggunakan rumus Droop maka bilangan pembagi pemilihnya adalah 100.000 (suara)/(6 kursi+1) = 14.286. Perolehan kursi partai A, B, C, dan D masing-masing adalah 3,2,1,dan 0 kursi.
Tabel 1.2
Alokasi Kursi Versi Kuota Droop
Partai
Suara
Kuota Hare
Kursi dari Kuota Penuh
Kursi Sisa
1Total Kursi
A
42.000
2,94
2
1
3
B
31.000
2,17
2
0
2
C
15.000
1,50
1
0
1
D
12.000
0,84
0
0
0
Total
100.000
7,00
5
1
6
Sumber: Andrew Reynolds dan Arend Lijphart
Jika dibandingkan varian Here dan Droop terlihat bahwa varian Droop kurang sensitif dengan perolehan partai kecil.
Pada Teknik Divisor atau dikenal juga dengan penghitungan rata-rata angka tertinggi (the highest average) muncul berkaitan dengan kelemahan yang ditemukan pada teknik kuota. Seperti halnya teknik kuota, teknik Divisor ini juga memiliki beberapa varian. Yang membedakan dari tiap varian adalah bilangan pembaginya. Ciri khas dari teknik ini adalah bilangan pembagi (BP) tetap, tidak tergantung pada jumlah penduduk/pemilih /perolehan suara.
Varian pertama adalah D’Hondt. Finlandia, Israel, Luxemburg, Belanda, Portugis, Spanyol, dan Swiss adalah negara-negara yang menggunakan varian D’Hondt. Bilangan pembagi dari varian ini adalah berangka utuh (1,2,3,4,5,6,7 dan seterunya) kemudian diseleksi angka tertinggi. Kursi yang tersedia, pertama-tama akan disetorkan kepada daerah berpopulasi tinggi dan seterusnya.
Tabel 1.3
Alokasi Versi D’Hondt

Partai

Suara
Alokasi D’Hondt
Total
Kursi
V/1
V/2
V/3
A
42.000
42.000 (1)
21.000 (3)
14.000 (6)
3
B
31.000
31.000 (2)
15.000 (4)
10.333
2
C
15.000
15.000 (5)
7.500

1
D
12.000
12.000



Total
100.000



6

Varian kedua adalah Sainte Lague. Negara yang menggunakan varian ini adalah Denmark. Norwegia dan Swedia. Varian ini menggunakan Bilangan Pembagi (BP) berangka ganjil (1,3,5,7,9, dan seterusnya) Kemudian disaring angka tertinggi. Kursi yang tersedia, pertama-tama akan disetorkan kepada partai yang memperoleh suara tertinggi (lihat Tabel 1.4).
Tabel 1.4
Alokasi Kursi Versi Modifikasi Sainte Lague
Partai
Suara
Alokasi Modifikasi Sainte Lague
Total
Kursi
V/1
V/2
V/3
A
42.000
30.000 (1)
14.000(3)
8.400
2
B
31.000
22.143 (2)
10.333 (5)
6.200
2
C
15.000
10.714 (4)
5.000

1
D
12.000
8.571 (6)


1
Total
100.000





b.      Single Transferable Vote (STV)
Karakter utama dari tipe ini adalah: pertama, menggunakan distrik beranggota majemuk. Kedua, pemilih melakukan ranking kandidat secara preferensial (biasanya bersifat pilihan, boleh memilih 1,2,3, dan seterusnya). Ketiga, kandidat yang mendapatkan suara melebihi kuota suara (threshold) dinyatakan sebagai wakil distrik. Keempat, jika tidak ada yang melebihi kuota kandidat yang preferensinya paling sedikit disingkirkan,  tetapi preferensi keduanya diredistribusikan kepada kandidat lain. Pada saat yang sama, suara surplus kandidat terpilih juga diredistribusikan tetapi setiap suara dihitung dengan bobot sebagai bagian atau sebagian persen dari preferensi kedua.
Dalam penghitungan suara, rumus yang digunakan dalam STV hampir selalu menggunakan kuota Droop. Bedanya, pada kuota Droop STV penentuan kuotanya dihitung dari membagi jumlah total suara pemilih dengan jumlah kursi ditambah satu, yang kemudian dibulatkan. Jika hasil perhitungannya adalah suatu bilangan bulat, maka hasil tersebut ditambah 1 (sebagai angka penambah).
Tabel 1.5 adalah contoh dari alokasi kursi dengan STV pada distrik dengan 3 kursi dan 5 kandidat serta 100 pemilih.  Dengan demikian kuota Droopnya adalah Kuota Droop = (100+ (3+1)+1= 26. Preferensi pemilih sendiri adalah 23 surat suara untuk P, Q, dan T . ada 23 surat suara untuk P, R, dan S. Ada 16 surat suara untuk Q dan R. Terdapat 5 surat suara R dan S. Ada 20 Surat suara S dan T. Ada 8 surat suara T, Q, dan R. Serta terdapat 5 surat suara untuk T.
Penghitungannya sangat rumit, sekali melakukan kesalahan menghitung berdampak pada keseluruhannya. Pada tabel di atas terlihat yang memperoleh kursi adalah P, Q, dan R.
Tabel 1.5
Alokasi Kursi pada STV
Kandidat
Penghitungan Pertama
Penghitungan Kedua
Penghitungan Ketiga
P
46
-20=26
26
Q
16
+10=26
26
R
5
+10=15
+8=23
S
20
20
20
T
13
13
-13=0
Tidak dapat dipindahkan

0
+5=5
Kandidat yang terpilih: P,Q,dan R





Sumber: Diolah dari Buku Sigit Pamungkas "Perihal Pemilu"

No comments:

Post a Comment