Sunday, March 4, 2012

Kekuasaan dan Negara


CRITICAL REVIEW
Kekuasaan lebih diartikan sebagai kapasitas untuk bertindak untuk menciptakan dominasi dan otoritas
(Jeffrey Issac)
Berikut ini saya akan memaparkan critical review saya mengenai jurnal yang berjudul A Resource-Based Learning Approach “Power and Politic”. Negara adalah sebuah kompenen yang terdiri dari organ-organ yang menjadikannya sebuah sistem yang bisa bekerja. Negara  diisi oleh organ-organ yang memberdayakan kehidupan sosial dengan menciptakan aturan-aturan serta mengelola sumber daya pelayanan sosial yang berasal dari salah satunya pajak.  Negara yang dikatakan bukan sebuah benda karena sebuah struktur hubungan sosial. Negara  yang dimaksud diawal ini tidak menyinggung tentang bagaimana lembaga non-government organization (NGO) ikut berpengaruh dalam memberdayakan negara karena negara Cuma memberdayakan, PNS, Polisi, dan Tentara, serta Perusahaan). Padahal kelompok ini salah satu pendongkak atau penyeimbang kebijakan yang dikeluarkan pemerintah,
Secara garis besar teori kekuasaan dalam memberdayakan organisasinya dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Teori kekuasaan pluralis
Menurut teori ini kekuasaan dipandang oleh berbagai kelompok yang ada dimasyarakat dimana semua kelompok saling bersaing memperebutkan kekuasaan. Tidak adanya kelompok yang mendominasi satu antara lain karena sistem check and balances yang dibangun untuk sebuah sistem demokrasi. Walaupun demikian menurut hemat saya ini akan berpengaruh terhadap hegemoni sebuah kelompok. Teori hegemoni yang dicetuskan antonio gramsci, dengan  banyaknya komunitas dimasyarakat barang tentu akan ada sebuah komoditas yang bisa mendominasi atas kekuasaan yang lain. Walaupun dalam taraf elite paham ini juga aka tetap terjadi karena sudah ada bergaining (kerjasama) dengan kelompok/konstituennya atau pemilih terbesar dari partainya.
2.      Teori Elite
Adanya sekelompok elit yang bisa memaksakan kehendak mereka kepada seluruh masyrakat. Teori elit dicetuskan oleh Mosca dan Pareto
3.      Teori Hukum Kelas
Teori yang dicetuskan oleh Marx ini sehingga disebut teori marxis yang berpendapat bahwa kekuasaan pada dasarnya diajukan dengan pemilik dan pengendali produksi ekonomi (kaum borjuis). Teori ini mengidentifikasi Kelas Hukum yang tidak hanya mengendalikan alat-alat produksi, distribusi dan pertukaran dalam masyarakat kapitalis tetapi  juga mendominasi dan mengontrol lembaga kekuasaan politik. Teori ini terbagi atas dua:
a.       Instrumental Marx
Model ini adalah model kekuasaan yang strukturalis yang berbasiskan pemikiran marx yang membuktikan secara empiris sifat hukum dominasi kelas di masyarakat.
b.      Strukturalis marxis
Menurut strukturalis ini mencoba menunjukkan bagaimana kelas yang berkuasa mampu mendominasi seluruh masyarakat secara ekonomi.
Kedua hal diatas yang menjadi penjabaran mengenai hokum teori kelas tidak menyinggung bagaimana posisi dari kelas bawah yang dikuasai oleh kelas yang mendominasi. Penulis tidak menyinggung dalam hal tersebut bagaimana kesadaran akan kelas, terutama kesadaran subjektif proletariat untuk menghadapi kelas penguasa.
Perbedaan antara pluralis mengenai teoritis dan fungsionalis, teori pluralis seperti yang juga diutarakan oleh Talcott Parson, secara umum dapat dibedakan dari fungsionalisme berdasarkan tiga ide utama :
1.      Sifat daya
Jumlah sumber daya dalam masyarakat manapun akan terlihat relative tetap (konstan). Untuk kelompok apapun yang ingin mendapat kekuasaan, ia harus melakukannya dengan mengorbankan kelompok sosial  yang lain. Kritikan saya mengenai gagasan salah satu ide penulis tentang teori pluralis ini adalah masalah kestagnanan (tetap). Sumber daya yang ada dalam masyarakat menurut hemat saya yang jumlah daya yang ada didalam masyarakat tersebut akan terus bergerak dan lebih bersifat kearah fleksibel. Sehingga pendapat ini dimungkinkan dalam sistem kekuasaan yang terbuka.
2.      Nilai Konsensus
Teori ini cenderung menolak gagasan marxis, bahwa kelas sosial adalah atribut yang paling signifikan dari individu, dan selain itu juga menolak argument fungsionalis bahwa konflik relatif tidak penting dalam penjelasan distribusi dan teorisasi hubungan kekuasaan. Walaupun teori ini dibenarkan dalam menciptakan suatu konsesus dalam komunitas sebuah Negara yang terdiri dari berbagai kelompok dan lapisannya (pluralis). Akan tetapi konflik juga terjadi dalam sistem distribution of power (pembagian kekuasaan) selalu ada tolak ukur kepentingan, ini yang mungkin menjadi catatan mengenai teori konsensus ini dimana konflik diperlukan. Untuk mengatahui apa yang sebenarnya yang diinginkan, yang nantinya akan bermuara pada musyawarah untuk mufakat (konsensus). Akan tetapi perlu digaris bawahi, konflik yang diamaksud adalah bukan dalam bentuk kekerasan fisik, kareana ini  bukan suatu hal yang baik dan bisa dikatakan Colapsed State (Negara gagal), melainkan konflik-konflik kepentingan dalam menyuarakan pendapatlah yang diperlukan. Sehingga semua individu berhak untyuk menyampaikan pendapatnya, walaupun itu bertentangan dengan penguasa.
3.      Negara
Negara dikatakan sebagai suatu bentuk “perantara” diantara berbagai kepentingan yang ada dimasyarakat Negara menjadi penengah antar berbagai kepentingan dan mencetuskan konsensus diantara kelompok yang bersaing. Sehingga saya melihat ini tak obahnya dengan politik intermediary yang dimainkan oleh Negara, dimana pemerintah memiliki peranan yang besar dalam mengakomodasi kepentingan-kepentingan dari kelompok-kelompok. Selain itu, pemerintah menjadi sebagai pengadil dikarenakan menjadi penengah diantara persaingan kelompok.
Ada dua elemen penting untuk melihat kekuasaan menurut Parsons. Pertama, Parsons berpendapat keuasaaan adalah sesuatu yang dimiliki oleh masyarakat secara keseluruhan. Sedangakan yang kedua, kekuasaaan merupakan kemampuan untuk memobilisasi sumber daya umum dalam masyarakat untuk mencapai tujuan sosialnya dengan demikian, menurutnya. Masyarakat meminta tujuan-tujuan pembangunan dan sifat kolektifitas.
Pluralisme klasik
Dalam masyarakat pluralism klasik ini, Negara melihatnya sebagai sesuatu yang netral dalam melihat lembaga sosial. Dalam demokrasi pluralisme klasik ini. Kelompok-kelompok yang ada mengoorganisir kelompok politiknya untuk mendapatkan atau mengambil kontrol dalam sistem begara. Masing-masing mereka akan menjatuhkan pilihan kepada partai yang menurut mereka mencerminkan jati diri dan kepentingan-kepentingan identitas kelompoknya. Dalam tulisan tersebut mencontohkan partai Konservatif menarik bagi pebisnis atau kalangan pengusaha, sedangkan partai buruh mewakili buruh yang terorganisir. Kalau di Indonesia dapat dicontohkan, kalau PDI P menyatakan basisnya wong cilik. PKB dengan mewakili masyarakat NU, walaupun ada tumpang tindih dimana yang loyal kepada PKB adalah masyarakat NU yang yang dari kalangan mapan. Selain itu mereka terafiliasi ke kepada partai lain seperti PNU, dan PPP.  
Dalam sistem politik ini dapat digambarkan sebagai berikut:
1.      Partai politik harus memiliki daya tarik yang cukup luas untuk mengumpulkan suara dalam memenangkan pemilu. Dalam memperluas daya tarik mereka untuk kalangan yang berbeda orientasi kepentingannya. Saya  melihat ini mulai banyak diminati oleh partai-partai politik di Indonesia. Dimana sekarang kita mengenal ideologi-ideologi partai itu Nasionalis Religius. Ini membuka kesempatan bagi semua kalangan untuk masuk kedalam partainya tanpa melihat satu identitas tertentu dalam masyarakat yang dijadikan basis. Contoh partai yang menganut ini adalah Golkar, Partai Demokrat, PAN, dsb.
2.      Pemerintah sebelumnya tunduk kembali pada pemilihan berikutnya yang mempunyai rentang waktu tertentu yang disepakati secara bersama.
3.      Pemerintah beroperasi dalam batas-batas norma tertentu yang lebih dikenal dengan sebutan konstitusi (aturan-aturan).
4.      Independen, otonomi, dan mempunyai lembaga peradilan.
Lebih lanjut demokrasi dalam paham pluralisme klasik ini ditandai dengan hal, a). Partai politik yang pluralis. b). kelompok kepentingan yang pluralitas, c). sebuah konsensus yang lebih luas mengenai legitimasi lembaga-lemabaga politik. Kesemuanya ini masih dipakai sampai pada saat sekarang ini. Walaupun pahamnya klasik, kita akan melihat gagasan Martin Deutsch yang membahas bagaimana Negara berteori dalam pandangan pluralisme klasik.
1.      Liberal konservatif yang melihat Negara sebagai pasif, dia hanaya menanggapi lebih luas jika ada perubahan-perubahan social yang dapat mempengaruhi stabilitas masyarakat.
2.      Sosial demokrat yang melihat Negara sebagai sesuatu yang menangkap adanya tujuan-tujuan yang coba ditekankan oleh masyarakat untuk membawa yang namanya demokrasi.
Dari kedua hal diatas saya melihat Negara dipandang sebagai sesuatu yang mempengaruhi atau responsive terhadap tekanan sosial sehingga Negara harus netral tidak mendukung salah satu pihak. Pandangan Deutsch  diatas dalam realitanya mendapatkan sebuah tantangan. Tantangan apa yang saya maksud ? Paham ini membuka sebuah monopoli kepentingan yang secara nyata dapat dilihat secara kasat mata, dimana Negara belum bias bersifat netral. Ini dikarenakan masih melihat untung rugi dari kelompok politisi atau decision making bukan dari kacamata masyarakat yang merupakan input dari kebijakan sesuai teorinya G. Almond.
Elit Pluralisme
Perkembangan pemikiran ini dikemabangkan dalam pemikiran pluralis yang muncul sebagai respon terhadap kritikan terhadap tidak semua kelompok kepentingan dalam masyarakat yang memilki tingkat kekuasaanya sama, dan tingkat akses kekuasaanya juga sama. Sehingga untuk menjawab itu konsep kelompok elit pun dikembangkan. Dimana elit dilihat sebagai peserta utama dalam proses pengambilan keputusan. Apa yang disebut elit pun meliputi; organisasi bisnis, administrasi pemerintahan, partai politik, serikat buruh, budaya elit, dsb. Dalam sistem demokrasi ditandai dengan persaingan elit dalam hal pengaruh. Dalam hal ini kelompok elit terlihat mempunyai strategi dalam menciptakan kekuasaan. Kritikan yang paling pas untuk elit pluralisme ini adalah wewenang yang begitu besar kepada partai penguasa atau partai pemerintah yang menang dalam pemilu. Seperti diungkapkan dalam tulisan tersebut bahwa sebagai contohnya partai konservatif yang menjadi partai pemerintah. Hal ini akan menyebabkan tidak pernahnya kekuasaan itu akan dirasakan ditangan kelompok-kelompok minoritas. Karena akan terjadinya kompetisi baik ditingkat structural maupun kepentingan berbagai kalangan.
Kritikan saya berikutnya mengenai level struktural dan  level strategis. Ini menitipberatkan persoalan kebijakan ditangan segelintir elit penguasa. Kebijakan yang dirancang senantiasa berasal dari muartan-muatan politik pemerintah yang duduk disana merupakan partai pemenang. Mereka akan lebih mudah untuk menyiapkan level strategi untuk menimbang untung rugi terhadap kemajuan partainya. Tidak adanya kelompok penyeimbang dalam merumuskan kebijakan akan menjadi persoalan tersendiri dalam sistem ini. Dan pendapat saya diatas senada dengan apa yang dikatakan Lukes yang mengatakan pluralisme elit itu mempunyai kekuatan untuk  membuat keputusan dan kekuatan untuk masalah dari agenda politik akan tetapi gagal untuk mengatasi kemampuan untuk membentuk keinginan rakyat.
Sehingga tulisan tersebut juga memuat masalah yang belum tuntas dengan pluralisme elit yang meliputi; 1). Dalam demokrasi ada perbedaaan jelas, luas, kekuasaan, yang artinya sejauh mana kekuatan sebenarnya tersebar dalam di dalam masyarakat tidak jelas. 2). Pluralis elit gagal untuk menganalisis cara dimana kelompok elit memonopoli kekuasaan untuk memberdayagunakan kepentingan mereka sendiri, sehingga opini publik mencerminkan kepentingan kelompok yang kuat.
Teori Elit
Teori elit yang dikembangkan oleh Pareto dan Mosca adalah yang paling dikenal dikalangan penggiat masalah elit ini. Pareto melihat kekuasaan politik itu sebagai sebuah sirkulasi yang terus menerus dari kelompok elit. Ini disebabkan oleh tingkat kecerdasan yang tinggi, pendidikan, licik dan sebagainya yaitu kualitas kepribadian yang unggul. Sedangkan Mosca berpendapat bahwa kelompok-kelompok elit politik yang memerintah dikarenakan kemampuan unggul organisasi mereka. Sedangkan penulis melihat massa dikontrol untuk dimanipulasi, propaganda dan sejenisnya untuk melayani kepentingan elit yang kuat.
Ide Pareto mengenai jenis kelompok elit mengikuti ide dari Machiavelli, ia membedakan dua jenis kelompok elit; a). Elit Singa yang mampu memerintah dengan kekerasan (misalnya rezim militer), b). Elit Rubah yang mampu memerintah dengan manipulasi (misalnya rezim demokratis liberal). Pendapat ini menurut saya memang sesuatu yang diperlukan oleh elit untuk mendapatkan pengakauan/legitimasi dari kekuasaanya. Dalam karyanya yang monumental “The prince” Machiavelli mengharuskan pemimpin itu seperti singa dan rubah, dimana dia harus keras seperti singa dan dia juga harus licik/pandai dalam situasi tertekan. Menurut hemat saya berdasarkan penjelasan teoritis tersebut, Soeharto adalah elit yang menganut paham ini. Dimana dia menekan stabilitas kekuasaanya dengan yang namanya sebuah badan yang bertanggung jawab untuk itu, seperti Kopkamtib yang dpernah diemban oleh Ali Mortopo dan LB. Moerdani. Serta dengan menakuti premanisme yang bertato dengan adanya istilah Petrus (penembak misterius). Selain itu untuk melanggengakan kekuasaanya Soeharto bersifat seperti rubah dengan memanipulasi pemilihan yang bisa dikatakan hanya sebagai seremonial belaka, dikarenakan hasilnya pun sudah diketahui seperti apa.
Sedangkan Mosca melihat lebih kepada penekanan latar belakang sosial dari para elit. Dalam hal ini elit memerintah karena kemampuan organisasi internalnya yang unggul. Lebih lanjut mosca melihat elit mengkooptasi massa untuk kepentingan yang kuat (bukan sebuah kepentingan yang benar-benar mewakili kepentingan rakyat). Mosca juga menyebut adanya konsolidasi ditingkat elit.
Secara teoritis perkembangan teori elit yang lebih radikal diusulkan oleh C. Wrigtt Mills. Dia berkonsentrasi pada cara-cara kelompok elit mengatur dan mengambil kekuasaan dalam masyarakat yang demokratis. Mills mengembangkan suatu bentuk teori konflik non-marxis tentang elit didalam masyarakat demokratis. Ide nya ini muncul bahwa kelompok elit tertentu untuk mengontrol berbagai institusi dalam masyarakat. Mills mencontohkan masyarakat Amerika ditahun 1950, Negara dianggap signifikansi dalam hal untuk memegang kekuasaan kekuasaan di masyarakat; a). Bidang Korporasi, b). Militer, c). Pemerintahan Federal. Dimana masing-masing lembaga membentuk blok kekuatan dalam dirinya sendiri dan masing-masing didominasi oleh elit internal (para pemimpin partai politik di pemerintahan, angakatan bersenjata, dan pemimpin perusahaan yang kuat). Lebih lanjut mills melihat partai politik yang menginginkan kekuasaan hanya bisa mencapainya atas dasar kerjasama dari elit ekonomi dan militer.
Dalam pandangan saya, ini adalah hubungan dimana sipil dan militer bermain. Kekuatan militer tidak dapat begitu saja ditinggalkan dalam konstelasi politik. Ikut campurnya militer juga bisa dilihat dari mulai berkurangnya kekuatan-kekuatan sipil sehingga militer memiliki celah untuk ini. Para pebisnis dengan mudah mengendalikan politik dan kebijakan dengan kekuatan finansial yang mereka miliki, ini membuat pemahaman semakin ke arah jika ingin berpolitik harus jadi pengusaha dulu. Partai-pengusaha-militer akan terus saling terkait dalam membangun sistem pemerintahan khususnya dalam menciptakan elit penguasa.  
   

Thursday, February 23, 2012

Tentang Aku , Mengenal "SI Anak Kampung"


CURICULUM VITAE


 


Nama                           : Fahrezi, S.IP
Jenis Kelamin              : Laki-Laki
TTL                             : Simpang Empat, 10 Oktober 1988
Kewarganegaraan       : Indonesia
Status Perkawinaan     : Belum Kawin
Tinggi, Berat Badan    : 165 cm, 52 kg
Kesehatan                   : Sangat Baik
Agama                         : Islam
Alamat                                    : Pogung Kidul, RT 04 RW 49 No. 3 Sinduadi Mlati, Sleman, Yogyakarta
E-mail                          : fahrezi_ilmaestro@yahoo.com
No. Hp                                    : 081374948013
Indeks Prestasi            : 3.49

 

Jenjang Pendidikan
1994-2001                   SD N 25 Simpang Empat
2001-2004                   SMP N 1 Pasaman                                                               
2004-2007                   SMA N 1 Pasaman
2007-2011                   Ilmu Politik Universitas Andalas Padang
2012- ....                      Pascasarjana Universitas Gadjah Mada (UGM)

Non Formal
            2006-2007                   Kursus Komputer Di Computer Course
 

Pengalaman Organisasi
2005-2006                   Ketua Umum OSIS SMA N 1 Pasaman
2006-2007                   Ketua Perkumpulan OSIS Se Pasaman Barat
2006-2007                   Ketua DPD Asosiasi Pelajar Islam (Assalam) Kab. Pasaman Barat
2007-2008                   Ketua Harian DPP asosiasi Pelajar Islam Prov. Sumatera Barat
2007-2008                   Kabid Sosial Masyarakat Asosiasi Asrama UNAND
2007-2008           Kabid Pengabdian Masyarakat Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat (IMAPASBAR) Kota Padang
2008-2009                   Sekretaris Umum Ikatan Mahasiswa Kabupaten Pasaman barat (IMAPASBAR) Kota Padang
2008-2013                   Tim Pemantau Kinerja Pemda Kab Pasaman Barat Bidang Kesehatan oleh IK Pasbar Kota Padang
2008-2009                   Sekretaris Menteri Olahraga Negara Mahasiswa Fisip
2009                            Plt Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat (IMAPASBAR) Kota Padang
2008                            Anggota UKM PHP UNAND
2009-2010                   Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat (IMAPASBAR) Kota Padang
2010-2011                   Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat (IMAPASBAR) Kota Padang 

 

Prestasi / Kemampuan
2006                            Siswa SMA berprestasi Jurusan IPS se Kab. Pasaman Barat
2010                            Juara 2 Futsal Asrama Unand Padang                                               
2010                            Juara 3 Sepakbola Liga Fisip Unand  Padang                                   
2010                            Top Skorer Liga Fisip Unand                                                
2010                            Juara 3 Tenis Meja Dies Natalis Fisip Unand Padang           
2010                            Juara 1 Takraw KKN Mahasiswa                                          
2011                            Lulusan Terbaik Jurusan Ilmu Politik Unand Padang           
2011                            Bintang Aktivis Kampus       
                       
 

Pengalaman Kerja
2009                            Pemantau Pemilu Kerjasama Bawaslu dengan IPC (Indonesian Parliemntary Centre)
2010                            Surveyor Bintang Baru Indonesia (BBI)
2010                            Koordinator Pengobatan Gratis untuk Nagari / Desa di Kab. Pasaman Barat
2010-2011                   Wakil Direktur CV Ranah Inti Pasaman (General Contractor)



Fahrezi dilahirkan di Simpang Empat Kab. Pasaman (Sebelum Mekar menjadi ibu kota Kab. pasaman Barat), pada tanggal yang membuat ku identik dengan angka "10" yakni 10-10-1988,,pada hari-hari kedepan angka 10 adalah predikat yang selalu melekat pada ku. angka 10 bagi haikal "Andrea hirata" adalah keramat karena laskar pelangi berjumlah 10 orang begitu juga dengan aku. sebagai anak kecil aq termasuk nakal juga, namanya anak kecil, menghabiskan waktu kecil bersama teman-teman, mandi-mandi disungai, sebagai seorang anak kampung pada saat itu adalah sangat2 yang sulit. masuk SD 25 Simpang Empat, waktu kecil aku sangat suka sepakbola sehingga waktu kecil pun aku kalau main sesama teman-teman pasti lawan 2 orang untuk swiet,,mereka bilang kamu terlalu hebat kali. haha aq tertawa jika masih ingat ini. lanjut ke SMP 1 Pasaman, aq termasuk anak yang paling pendek tetapi karena sering main bola malah melonjak tak seimbang dengan berat badan..melanjutkan ke SMA N 1 Pasaman, disinilah saya mulai tertarik dengan organisasi dan saya pun tercatat menjadi ketua OSIS SMA N 1 Pasaman. 
waktu di SMA yang didirikan 12 mei 1962 itulah saya mulai mengenal bagaimana cara nya mengatur sumber daya organisasi yang ada, dan mulailah saya mengisi acara-acara di radio mengenai bagaimana pandangan kaum muda, dan tidak terlepas juga dengan mulai masuknya sebuah koran dengan halam barunya khusus remaja yakni koran harian Singgalang dengan SMS (Singgalang Masuk Sekolah). selain itu beberapa pertemuan OSIS tingkat provinsi juga mulai saya ikuti untuk mewakili Kab. Pasaman Barat. dari perkumpulan Organisasi OSIS Se Kab. Pasaman Barat saya ditunjuk jadi ketua Gabungan tersebut dan selanjutnya lahirlah Organisasi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Asosiasi Pelajar Islam Kab. Pasaman Barat. aktif di organisasi tidak berarti kita meninggalkan pelajaran, terbukti pria yang mengagumi Peterband ini tetap menjadi yang terbaik dikelas. puncak prestasinya adlah diberikannya beasiswa berprestasi untuk siswa jurusan IPS yang berprestasi oleh Bupati Kab. Pasaman Barat Drs. Syahiran, di dampingi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kab. Pasaman Barat, yang menjadi kebanggaan adalah diberikannya didepan Seluruh kepala sekolah ,TK, SD, SMP dan SMA. di SD Pasaman Baru. selain itu saya tetap menekuni sepakbola,
setelah menamatkan sekolah menengah atas, pria yang memaang sangat pemalu didepan wanita ini, melanjutkan studi ke Universitas Andalas dengan jurusan Ilmu Politik. saya masuk melalui jalur udangan atau yang sering disebut dengan PMDK. sebelum mulai kuliah saya mengikuti pemilihan ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Pelajar Islam Prov. Sumatera Barat yang Musyawarah Besarnya atau kalau kata orang partai Kongresnya diadakan di Kab. Dhamasraya, anak pasaman ini kalah senior sehingga mengemban amanah sebagai Ketua Harian. di kampus tercatat juga pernah menjadi presidium sidang 1 pas Kongres UKM pengenalan Hukum dan Politik, juga tercatat beberapa kali menjadi ketua panitia dari beberapa ivent, mulai dari try out Assalam Sumbar se provinsi sumatera barat, juga lomba penulisan artikel, dan care for education, dikampus juga tercatat beberapa kali jadi ketua panitia, merubah ivent liga panas fisip yang biasanya main jam 1 siang mulai berangsur2 dimainkan sore,,tetapi tetap menjaga eksistensi gelar liga panas dengan tetap memainkan pertandingan jam 1 siang di dua minggu awal kompetisi. ketika didepan teman-teman selalu menkankna team work, bukan bekerja sendiri-sendiri. saya tidak menginginkan yang namanya SUPERMAN tetapi yang saya perlukan adalah SUPERTEAM, yang mempunyai semnagt superman. 
sebagai putra derah Kab. Pasaman Barat saya mendedikasikan seluruh pengabdian saya kepada Kab. Pasaman barat, dalam pergerakan mhasiswa, mahasiswa dituntut untuk kritis dan solutif, mengkritik pemerintah  tetapi kita juga harus bisa memberikan kontribusi-kontribusi berupa  solusi yang tepat untuk sebuah permsalahan. kadang-kadang kawan saya bertanya mengapa kamu begitu berani melawan arus. saya mengatakan"bagi saya harga mati untuk sebuah keadilan, mau dia presiden saya g' takut yang penting nasib rakyat banyak. jadi rindu kenangan dengan rekan-rekan semuanya. pada dedikasi terakhir saya menjadi ketua umum Ikatan Mahasiswa Kab. Pasaman Barat (IMAPASBAR) kota Padang. semoga semua komisariat-komisariat dan ikatan kecamatan tetap akur.

menamatkan kuliah di Universitas Andalas pada tahun 2011 dengan predikat alhamdulillah mendpatkan lulusan terbaik jurusan ilmu politik dan Bintang Aktivis Kampus. melanjutkan studi ke Yogyakarta di salah satu Universitas terkemuka di Indonesia. saya begitu banyak terilhami oleh beberapa tokoh penting bangsa ini. seperti Tan Malaka, Soekarno, Hatta, AH. Nasution, Soeharto, dan tokoh lokal yang telah membimbing saya untuk terus menimba ilmu pengetahuan tidak terlepas dari Bapak Drs. Rusdi lubis, M.Si mantan Setda Prov.. Sumaetra Barat. mengapa saya kejogja juga punya cerita saya sangat terkagum-kagum  dengan kisah buya Syafii Maarif yang berangkat dari sebuah desa yang bernama Calau di Kab. Sijunjung Kab. Pasaman Barat, yang juga dalam bukunya Anak Kampung, dan Anak Kampung "si Anak Panah".menimba ilmu dikota ini dan mengabdi disini.
terlepas dari itu saya adalah saya manusia biasa, saya juga memiliki beberapa kelemahan seperti sering terpukul jika sesuatu yang tidak maksimal.walaupun saya berusaha untuk mengejarnya terus. dengan moto "biarkan lah waktu itu lelah untuk mengjar lelah". saya sangat mengagumi film The last Samurai. karena banyak sekali prinsip-prinsip yang bisa diaplikasikan dari film tersebut.
terima kasih. salam kenal dari saya. Fahrezi, Sianak Kampung dari Ujung Ranah Minang.